Selasa, 30 Juni 2009

ISTILAH KARATE

TINGKATAN DALAM KARATE
  • KYU : Tingkatan di bawah Sabuk Hitam
  • DAN : Tingkatan Sabuk Hitam, dari tingkat pertama sampai DAN 10
  • MUDANSHA : Tanpa tingkatan, khusus bagi murid di bawah Sabuk Hitam
  • YUDHANSHA : Sabuk Hitam dari pertama sampai DAN 10

TINGKATAN SABUK HITAM
  • SHODAN : Sabuk Hitam DAN I
  • NIDAN : Sabuk Hitam DAN II
  • SANDAN : Sabuk Hitam DAN III
  • YONDAN : Sabuk Hitam DAN IV
  • GODAN : Sabuk Hitam DAN V
  • ROKUDAN : Sabuk Hitam DAN VI
  • SHICHIDAN : Sabuk Hitam DAN VII
  • HACHIDAN : Sabuk Hitam DAN VIII
  • KUDAN : Sabuk Hitam DAN IX
  • JUDAN : Sabuk Hitam DAN X

ISTILAH dan EKSPRESI
  • CHUDAN : Tingkat menengah
  • CHUI : Peringatan
  • DESHI : Murid
  • DOJO : Pedepokan
  • GEDAN : Tingkatan lebih rendah
  • HAJIME : Mulai
  • JODAN : Tingkatan lebih tinggi
  • KATA : Rangkaian gerakan karate
  • KARATE-GI : Seragam karate
  • KIAI : Metode yg khas dlm beladiri Jepang
  • KIHON : Latihan Dasar
  • KIHON KUMITE : Lawan yg sdh diatur sebelumnya
  • KIME : Konsentrasi penuh dlm penghimpun tenaga
  • KUMITE : Perkelahian
  • MA-AI : Jarak
  • MAWATE : Berbalik
  • MAKIWARA : Pemecahan
  • OSU : Sapaan karateka
  • SEITO : Murid
  • SHI-AI : Even
  • SHOBU : Pertarungan
  • SHOMEN : Ruang buat tamu khusus
  • YAME : Berhenti
  • YOI : Bersiap

KUDA-KUDA
  • DACHI : Cara berdiri
  • FUDO DACHI : Sikap dasar berdiri
  • HEISUKO DACHI : Sikap berdiri bebas
  • JIYO DACHI : Berdiri dg sikap bebas
  • KOKUTSU DACHI : Berdiri membelakangi
  • MAE DACHI : Berdiri dg mengarah ke depan
  • NIKO ASHI DACHI : Cat Stance
  • SANCHIN DACHI : Hour glass stance
  • ZENKUTSU DACHI : Berdiri mengedepan

Senin, 29 Juni 2009

Pelanggan Kasar, Puluhan PSK Belajar Karate


Selasa, 16 Juni 2009 | 09:10 WIB

MADRAS,KOMPAS.com — Menjadi penjaja seks, bukan berarti harus tunduk pada kemauan pelanggan. Bagi sebagian perempuan malam di Madras, negara bagian Tamil Nadu, duit memang penting karena untuk itulah mereka menjual diri. Namun, keamanan dan keselamatan diri juga penting.

Sebanyak 75 perempuan penjaja seks komersial (PSK) akhirnya memutuskan belajar seni bela diri karate karena sudah muak dengan segala penindasan, baik oleh germo, maupun pria hidung belang. Mereka pun mencari orang yang bisa membantu mereka belajar seni menendang dan menonjok itu. Para perempuan ini agaknya ingin menyebarkan pesan bahwa segala bentuk kekerasan harus dihentikan.

Namun, jumlah itu hanya secuil dari sekitar 3 juta anggota PSK di seluruh India. Sebagian besar dari mereka hidup di masyarakat yang keras dan dalam strata sosial, mereka cuma punya segelintir hak yang diakui negara. Mereka tidak punya banyak pilihan kecuali menghadapi kerasnya hidup itu.

Di Madras, ke-75 perempuan menantang teriknya sinar matahari untuk berlatih gerakan. Setelah berlatih lima jam sehari selama beberapa pekan terakhir, mereka sekarang merasa lebih mampu menghadapi pelanggan dan germo kejam.

”Meski mungkin saya tidak bisa menghadapi lima pria yang mengeroyok, setidaknya saya sangat yakin bisa kabur,” kata Santhi, kepada BBC.

Santhi merasa mampu menghadapi seorang pria, satu lawan satu. Ia mengaku tiap hari mengalami kekerasan. Dipukul pelanggan bukan hal yang mengejutkan karena setiap waktu dia alami. ”Pernah seorang penjahat melucuti pakaian saya dan menyuruh saya lari telanjang. Mulai sekarang tidak seorang pun boleh memperlakukan saya seperti itu. Akan saya tendang,” katanya dengan suara mantap.

Organisasi Kesejahteraan Masyarakat India (ICWO) memberikan latihan bela diri itu secara gratis. Sekretaris ICWO, AJ Hariharan, mengatakan bahwa di Tamil Nadu ada sekitar 90.000 pekerja seks.

“Banyak di antara mereka yang bekerja sendirian di jalanan. Sehari-hari mereka mengalami kekerasan, bukan cuma dari pelanggan, tetapi juga dari preman setempat dan polisi,” kata Hariharan.

Kata Hariharan, mereka mengincar penjaja seks yang beroperasi sendirian itu, untuk dirampok uangnya dan memaksa mereka berhubungan seks tanpa pelindung. “Kami ingin melatih mereka karate biar bisa membela diri,” kata Hariharan.

Hariharan mengaku ingin membangkitkan kesadaran para pekerja seks itu agar menghargai diri sendiri. “Kami akan melatih 300 perempuan pada tahap kedua dan 500 orang lagi pada tahap berikutnya. Kami ingin mengirim pesan sejelas-jelasnya, orang-orang itu tidak bisa lagi menganiaya seenak perutnya,” kata Hariharan. (bbc/sas)

Sent from Indosat Blackberry powered by

Sabtu, 27 Juni 2009

KIHON – KUMITE – KATA


Hampir seluruh aliran karate saat ini memasukkan tiga materi wajib yaitu kihon, kumite dan kata dalam latihan. Walaupun sebagian dari aliran juga memasukkan materi lain seperti teknik senjata seperti yang dilakukan oleh Shito-ryu. Adalah Funakoshi yang memberikan tiga materi ini sebagai komponen latihan ketika di Jepang dojo-dojo karate mulai banyak bermunculan. Pada perkembangan selanjutnya, JKA yang berdiri tahun 1949 kembali mempertegas hal ini dengan menstandarisasikan kihon, kumite dan kata sebagai materi wajib.

Kihon adalah berlatih teknik-teknik dasar : memukul, menendang, bertahan dan menangkis. Teknik-teknik ini adalah awal juga sekaligus akhir dari karate. Seorang karateka bisa saja mempelajarinya dalam hitungan bulan bahkan tahun. Dari sini teknik-teknik dasar membutuhkan latihan yang teratur, dikerjakan dengan penuh konsentrasi dan usaha yang sebaik-baiknya.

Dalam kumite seseorang melakukan dengan seorang rekan bertanding. Prinsip-prinsip kihon tetap berlaku dalam kumite. Seorang karateka harus mengerjakan teknik karate dengan sesuai, kekuatan dan kecepatan yang benar dan juga kontrol yang baik. Teknik ini dikenal dengan Sundome yang artinya menghentikan teknik kira-kira tiga inci sebelum sasaran. Sundome adalah kebalikan dari Full Contact yang mengijinkan karateka melancarkan teknik sekeras-sekerasnya pada sasaran. Beberapa aliran karate didunia masih ada yang menerapkan metode ini.

Kata, latihan bentuk resmi yang menggabungkan teknik-teknik dasar dalam karate ; pukulan, tendangan, bertahan dan menangkis kedalam satu rangkaian pergerakan yang telah ditentukan.

Kata mengkombinasikan teknik menyerang dan bertahan, pergerakan badan yang sesuai dan perubahan arah. Kata mengajarkan seorang karateka menghadapi begitu banyak penyerang dari sedikitnya empat arah. Kata telah menjadi inti dari latihan karate sejak jaman dulu. Shotokan mempunyai 26 kata yang terus dilatih hingga kini walaupun ada yang populer dan ada pula yang tidak. Inilah 26 kata Shotokan :

Heian, ada yang mengartikan pikiran yang damai, mencintai kedamaian dan pikiran yang tenang. Walaupun ada pula yang tidak setuju dengan nama ini. Menurut legenda seluruh kata Heian berasal dari kata Kanku-dai yang disederhanakan oleh Yasutsune Itosu. Tujuannya untuk mengajari pemula ketika karate telah diterima secara terbuka di Okinawa. Karena itulah banyak teknik yang berbahaya telah dihilangkan. Nama aslinya adalah Pinan dan kata ini banyak aliran karate lain yang masih mempertahankan nama ini kecuali Shotokan yang telah menggunakan nama Heian. Ada lima versi kata Heian yaitu Heian Shodan, Nidan, Sandan, Yondan dan Godan dengan tingkat kesulitan yang berbeda.

Tekki, aslinya bernama Naihanchi dan saat ini dalam Shotokan memiliki tiga versi yaitu Tekki Shodan, Nidan dan Sandan. Tekki Shodan dan Nidan menurut legenda berasal dari Itosu sementara Tekki Sandan tidak begitu jelas. Tekki berarti kuda-kuda yang kuat, bertahan dalam posisi menunggang kuda (kiba dachi) dan satria yang kuat. Tidak begitu jelas mengapa dikerjakan dalam kuda-kuda kiba dachi.

Bassai, aslinya bernama Passai yang berarti menembus benteng, menembus pertahanan lawan dengan mencari titik lemahnya, walaupun ada juga tidak setuju dengan arti ini. Bassai adalah kata yang sangat tua, dan dalam Shotokan saat ini ada dua versi yaitu Bassai-dai dan Bassai-sho.
Kanku, aslinya bernama Kushanku yang menuru legenda menambil nama dari seorang atase militer Cina yang bertugas di Okinawa. Kushanku berubah nama menjadi Kanku-dai yang berarti menatap langit setelah nama ini terinspirasi dari gerakan pembukanya. Kanku adalah kata yang paling banyak versinya dan hampir seluruh aliran karate memegang kata ini walau dengan nama yang berbeda. Shotokan memiliki dua versi Kanku-dai dan Kanku-sho dimana keduanya mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

Enpi, atau kadang diucapkan Empi berarti burung layang-layang terbang. Menurut legenda kata ini versi aslinya adalah Wanshu ahli bela diri Cina yang datang ke Okinawa. Enpi adalah kata Shotokan yang sangat populer dan sangat sering ditemukan dalam turnamen.
Jion, salah satu kata Shittei (wajib) Shotokan selain Kanku-dai. Jion berarti kebaikan hati, pengampunan, kasih sayang. Ada pula yang mengartikan Jion nama biksu Budha, dan kenyataannya memang ada biksu yang bernama Jion. Nama kata ini tidak berubah dan dipercaya sebagai salah satu kata yang menunjukkan karakter dari Shotokan.

Hangetsu, kata yang sangat tua ini bararti bulan separuh dan sekaligus mengambil dari nama kuda-kudanya yaitu Hangetsu dachi. Nama aslinya adalah Seishan yang berarti tiga belas. Kata ini berasal dari Naha dan menampilkan teknik-teknik pernapasan.

Gankaku, kata yang juga sangat tua ini berarti bangau diatas batu. Nama ini tampaknya diambil dari gerakan kuda-kudanya yaitu tsuruashi dachi yang sering mengangkat sebelah kaki. Nama aslinya adalah Chinto yang berarti pertempuran fajar. Kata ini termasuk salah satu kata yang sulit.

Jitte, berarti seolah-olah bertarung dengan kekuatan sepuluh orang. Nama kata ini tidak mengalami perubahan. Menurut legenda kata ini boleh dikerjakan dengkat sebuah tongkat sebagai senjata.

Sochin, berarti ketenangan hati, memberikan kedamaian bagi orang banyak, penekanan yang besar. Salah satu kata Shotokan yang sangat populer dan sangat sering ditemukan dalam turnamen. Nama Sochin juga diambil dari kuda-kuda kata ini. Walaupun gerakannya tidak panjang, Sochin juga termasuk kata Shotokan dengan tingkat kesulitan tinggi.

Nijushiho, berarti 24 langkah. Nama aslinya adalah Niseishi dan milik Shotokan saat ini hampir mirip dengan milik Shito-ryu. Menggambarkan kekuatan air yang kadang kuat kadang lemah.

Unsu, berarti tangan bagai menyibak awan diangkasa. Nama aslinya adalah Hakko dan kata ini juga sangat tua. Versi Shotokan lebih pendek daripada Shito-ryu yang memegang versi asli kata ini. Unsu adalah salah satu kata Shotokan dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi.

Meikyo, berarti cermin yang jernih atau cermin yang terang. Nama ini diambil dari gerakan awalnya. Nama aslinya adalah Rohai yang diduga berasal dari salah satu Rohai Itosu. Kata ini sangat jarang muncul di turnamen.

Wankan, artinya mahkota raja. Tidak jelas mengapa diberikan nama ini. Wankan adalah kata Shotokan yang paling pendek.

Jiin, berarti halaman kuil pengampunan, kebaikan hati. Sama seperti Jion dan Jitte, kata ini mempunyai gerakan awal yang sama. Tampak pengaruh Budhisme yang kuat dalam kata ini. Sama seperti Meikyo dan Wankan, kata ini juga sudah sangat jarang yang melatihnya.

Chinte, berarti tangan tangan yang luar biasa. Mengandung teknik-teknik Cina yang membedakan dengan seluruh kata Shotokan yang lain.

Gojushiho, berarti 54 langkah. Nama aslinya adalah Useishi yang dalam bahasa Okinawa juga berarti 54. Kata ini sangat panjang dan bersama-sama Unsu dikelompokkan sebagai kata dengan kesulitan yang tinggi. Kata ini juga mempunyai dua versi ; Gojushiho-sho dan Gojushiho-dai dimana dua gerakan dan embusen kata ini nyaris tidak ada perbedaan.

Kamis, 25 Juni 2009

TRADISI KARATEKA

SUMPAH KARATE
- Sanggup memelihara kepribadian
- Sanggup patuh pada kejujuran
- Sanggup mempertinggi prestasi
- Sanggup menjaga sopan santun
- Sanggup menguasai diri

HORMAT PADA
- Bendera merah putih
- Lambang FORKI dan
- Lambang INKADO

HORMAT PADA
- SENPAI Sesama karateka dan Dojo OSH

Sejarah Karate


Menurut sejarah, Okinawa sebelum menjadi bagian dari Jepang adalah suatu wilayah berbentuk kerajaan yang bebas merdeka. Pada waktu itu Okinawa mengadakan hubungan dagang dengan pulau-pulau tetangga. Dan memang Okinawa mendapatkan pengaruh yang kuat akan budaya Cina. Sebagai pengaruh pertukaran budaya itu banyak orang-orang Cina dengan latar belakang yang bermacam-macam datang ke Okinawa mengajarkan bela dirinya pada orang-orang setempat. Yang di kemudian hari menginspirasi nama kata seperti Jion yang mengambil nama dari biksu Budha. Sebaliknya orang-orang Okinawa juga banyak yang pergi ke Cina lalu kembali ke Okinawa dan mengajarkan ilmu yang sudah diperoleh di Cina.

Pada tahun 1477 Raja Soshin di Okinawa memberlakukan larangan pemilikan senjata bagi golongan pendekar. Tahun 1609 Kelompok Samurai Satsuma dibawah pimpinan Shimazu Iehisa masuk ke Okinawa dan tetap meneruskan larangan ini. Bahkan mereka juga menghukum orang-orang yang melanggar larangan ini. Sebagai tindak lanjut atas peraturan ini orang-orang Okinawa berlatih Okinawa-te (begitu mereka menyebutnya) dan Ryukyu Kobudo (seni senjata) secara sembunyi-sembunyi. Latihan selalu dilakukan pada malam hari untuk menghindari intaian. Tiga aliranpun muncul masing-masing memiliki ciri khas yang namanya sesuai dengan arah asalnya, yaitu : Shurite , Nahate dan Tomarite.

Namun demikian pada akhirnya Okinawate mulai diajarkan ke sekolah-sekolah dengan Anko Itosu (juga mengajari Funakoshi) sebagai instruktur pertama sekitar awal tahun . Dan tidak lama setelah itu Okinawa menjadi bagian dari Jepang, membuka jalan bagi karate masuk ke Jepang. Gichin Funakoshi ditunjuk mengadakan demonstrasi karate di luar Okinawa bagi orang-orang Jepang.

Gichin Funakoshi dilahirkan di Yamakawa Shuri, Okinawa, pada tahun 1868, Funakoshi belajar karate pada Azato dan Itosu. Setelah berlatih begitu lama, pada tahun 1916 (ada yang pula yang mengatakan 1917) Funakoshi diundang ke Jepang untuk mengadakan demonstrasi di Nippon Butokukai Kyoto yang merupakan pusat dari seluruh bela diri Jepang saat itu.

Selanjutnya pada tahun 1921, putra mahkota yang kelak akan menjadi kaisar Jepang datang ke Okinawa dan meminta Funakoshi untuk demonstrasi. Bagi Funakoshi undangan ini sangat besar artinya karena demonstrasi itu dilakukan di arena istana. Tahun 1922 Setelah demonstrasi kedua ini Funakoshi seterusnya tinggal di Jepang di sebuah asrama untuk pelajar.

Selama di Jepang pula Funakoshi banyak menulis buku-bukunya yang terkenal hingga sekarang. Seperti "Ryukyu Kempo : Karate" dan "Karate-do Kyohan". Buku-bukunya masih dianggap sebagai salah satu karya terbaik dalam dunia karate sekaligus pioner buku karate di masa itu. Dan sejak saat itu klub-klub karate terus bermunculan baik di sekolah dan universitas.

Gichin Funakoshi selain ahli karate juga pandai dalam sastra dan kaligrafi. Nama Shotokan diperolehnya sejak kegemarannya mendaki gunung Torao (yang dalam kenyataannya berarti ekor harimau). Dimana dari sana terdapat banyak pohon cemara ditiup angin yang bergerak seolah gelombang yang memecah dipantai. Terinspirasi oleh hal itu Funakoshi menulis sebuah nama "Shoto" sebuah nama yang berarti kumpulan cemara yang bergerak seolah gelombang, dan "Kan" yang berarti ruang atau balai utama tempat muridnya-muridnya berlatih.

Simbol harimau yang digunakan karate Shotokan yang dilukis oleh Hoan Kosugi (salah satu murid pertama Funakoshi), mengarah kepada filosofi tradisional Cina yang mempunyai makna bahwa ’’harimau tidak pernah tidur’’. Digunakan dalam karate Shotokan karena bermakna kewaspadaan dari harimau yang sedang terjaga dan juga ketenangan dari pikiran yang damai yang dirasakan Gichin Funakoshi ketika sedang mendengarkan suara gelombang pohon cemara dari atas Gunung Torao.

Sekalipun Funakoshi tidak pernah memberi nama pada aliran karatenya, murid-muridnya mengambil nama itu untuk dojo yang didirikannya di Tokyo tahun sekitar tahun 1936 sebagai penghormatan pada sang guru. Selanjutnya pada tahun 1949 Japan Karate Association (JKA) berdiri dengan Gichin Funakoshi sebagai guru besar.

Shotokan adalah karate yang mempunyai ciri khas beragam teknik lompatan (lihat Enpi, Kanku dai, Kanku sho dan Unsu), gerakan yang ringan dan cepat. Membutuhkan ketepatan waktu dan tenaga untuk melancarkan suatu teknik. Shotokan juga menggunakan kuda-kuda yang lebih lebar dan pukulan yang kuat.

Gichin Funakoshi percaya bahwa akan membutuhkan waktu seumur hidup untuk menguasai manfaat dari kata. Dia memilih kata yang yang terbaik untuk penekanan fisik dan bela diri.
Yang mana mempertegas keyakinannya bahwa karate adalah sebuah seni daripada olah raga. Baginya kata adalah karate. Funakoshi meninggal pada tanggal 26 April 1957.
Funakoshi diangkat sebagai Bapak Karate Moderen karena usahanya yang terus menerus melakukan modernisasi dalam karate. Sebagai penghargaan kepadanya dibangun sebuah monumen di kuil Enkakuji. Hingga kini 4 besar aliran karate di Jepang yaitu Shotokan, Gojuryu, Wadoryu dan Shitoryu.

Jika ada laki-laki yang dipercaya menempatkan karate sampai dapat diterima di Jepang, dan pada posisi yang dapat dinikmati oleh orang-orang Jepang, dialah Gichin Funakoshi. Dilahirkan di Yamakawa Prefektur Shuri Okinawa tanggal 10 November 1868, Funakoshi masih memiliki garis darah keturunan keluarga samurai salah satu bangsawan di Okinawa. Funakoshi terlahir bukan sebagai anak yang sehat karena seringnya sakit-sakitan. Namun dari ketekunannya mampu menjadikannya Shotokan sebagai salah satu aliran karate yang tidak hanya empat besar di Jepang namun terbesar didunia.

Akibat kondisi fisiknya yang kurang baik, orang tuanya membawanya pada Azato dan Itosu untuk belajar karate. Selain dari mereka Funakoshi juga menerima pelajaran dari Arakaki Seisho (yang dipercaya menemukan kata Unsu) dan Sokon Matsumura yang merupakan tokoh sentral dari tidak hanya 4 besar aliran karate di Jepang namun juga aliran karate lain.

Funakoshi diberikan kepercayaan oleh para tokoh bela diri di Okinawa membawa karate ke Jepang. Sekitar tahun 1916 demonstrasi pertama karate diluar Okinawa dilangsungkan. Butokuden yang saat itu adalah pusat seni bela diri dan olahraga Jepang masa itu dipilih sebagai tempat untuk melakukan demonstrasi. Namun sayang sekali demonstrasi itu tidak berlangsung sukses, hal itu karena kebanyakan orang Jepang tidak tertarik dengan bela diri tangan kosong. Karena saat itu sudah ada Naginata (bela diri bersenjata tongkat dengan pisau tajam diujungnya) dan kendo yang merupakan penerus dari teknik samurai.

Walau demikian tawaran demonstrasi berikutnya datang dari calon putra mahkota negeri Jepang yang berkunjung ke Okinawa. Dan sekitar tahun 1922 awal musim panas Funakoshi kembali melakukan demonstrasi di Tokyo atas prakarsa Menteri Pendidikan Jepang. Demonstrasi ini berjalan sukses, Jigaro Kano (salah satu pendiri Judo) sangat terkesan dengan demonstrasi itu dan meminta Funakoshi tinggal di Jepang. Sejak saat itu Funakoshi tinggal di Jepang.

Selama di Jepang Funakoshi tinggal di Suidobata, sebuah asrama kecil di Tokyo. Siang hari Funakoshi bekerja sebagai tukang kebun dan penjaga asrama. Untuk membayar makanannya, Funakoshi membujuk koki diasrama itu dan sebagai ganti diajarinya karate. Dan sejak saat itu banyak bermunculan klub karate baik di sekolah maupun universitas. Begitu antusiasnya orang-orang Jepang berlatih karate, sampai-sampai sulit ditemukan tempat kosong untuk berlatih. Tiap hari diisi dengan latihan karate di hampir seluruh pelosok Jepang.

Di Jepang langkah modernisasi karate yang dilakukan Gichin Funakoshi diantaranya pengubahan huruf kanji karate yang sebelumnya lebih bermakna Cina kini dengan dialek Jepang berikut huruf kanjinya namun dengan pengucapan yang sama. Untuk penegasan pengubahan dialek dan penulisannya, dalam bukunya Karate-do Kyohan yang terbit tahun 1936 Funakoshi menggunakan perubahan ini. Selain itu juga pengubahan dan penulisan nama-nama kata yang sebelumnya masih menggunakan dialek Okinawa. Hal itu penting dilakukan agar karate dapat diterima oleh budaya Jepang. Selama di Jepang pula Funakoshi menulis buku-buku yang terkenal sampai sekarang. Setelah Karate-do Kyohan adalah buku Karate-do Nyumon yang diterbitkan tahun 1943.

Sekitar tahun 1936 dojo yang pertama berdiri di Meishojuku. Murid-murid Funakoshi menganugerahkan nama Shotokan pada papan nama perguruan sebagai penghormatan dan penghargaan pada Funakoshi. Walau demikian, sebenarnya Funakoshi tidak pernah memberikan nama apapun pada alirannya. Namun sayangnya dojo ini hancur karena saat itu Jepang dilanda serangan pasukan sekutu. Setelah perang tahun 1949 pengikut Funakoshi kembali bersatu, dan mendirikan sebuah wadah yang bernama Asosiasi Karate Jepang (Japan Karate Association) dengan Gichin Funakoshi sebagai instruktur kepala.

Funakoshi sangat menekankan murid-muridnya agar menguasai teknik-teknik dasar sebelum belajar tingkat lanjut. Adalah keyakinan Funakoshi bahwa karate adalah seni bela diri daripada olah raga. Bagi Funakoshi kata adalah karate. Dalam bukunya Karate-do Kyohan Funakoshi menyatakan,’’Beberapa anak muda antusias pada karate percaya bahwa karate hanya bisa dipelajari lewat instruktur di dojo. Walaupun kebanyakan dari mereka adalah orang yang mahir teknik, tetapi bukanlah karateka sejati. Sebuah nasihat bijak berkata bahwa semua tempat dapat menjadi dojo, dan itu berarti setiap orang yang ingin mengikuti jalan karate tidak boleh lupa hal ini. Karate-do tidak hanya berlatih cara membela diri tapi juga menguasai seni untuk menjadi bagian anggota masyarakat yang baik dan jujur.’’

Hal ini juga yang mempertegas keyakinannya untuk mencari kesempurnaan karakter dari berlatih karate daripada sekedar memecahkan rekor atau prestasi. Gichin Funakoshi meninggal pada tanggal 26 April 1957.

Apakah karate itu ?


Karate berasal dari pengucapan dalam bahasa Okinawa “Kara” yang berarti Cina dan “Te” yang bararti tangan. Selanjutnya arti dari dua pengucapan itu adalah tangan Cina, teknik Cina, tinju Cina (pada masa lampau). Selanjutnya sekitar tahun 1931 Gichin Funakoshi – dikenal sebagai Bapak Karate Moderen – mengubah istilah karate kedalam huruf kanji Jepang yang terdengar lebih baik. Tahun 1936 Karatedo Kyohan Funakoshi diterbitkan dengan menggunakan istilah karate dalam huruf kanji Jepang. Dalam pertemuan bersama para master di Okinawa makna yang sama diambil. Dan sejak saat itu istilah “karate” dengan huruf kanji berbeda namun pengucapan dan makna yang sama digunakan sampai sekarang.

Karate berasal dari dua kata dalam huruf kanji “kara” yang bermakna kosong dan “te” yang berarti tangan. Karate berarti sebuah seni bela diri yang memungkinkan seseorang mempertahankan diri tanpa senjata. Menurut Gichin Funakoshi karate mempunyai banyak arti yang lebih condong kepada hal yang bersifat filsafat. Istilah “kara” dalam karate bisa pula disamakan seperti cermin bersih yang tanpa cela yang mampu menampilkan bayangan benda yang dipantulkannya sebagaimana aslinya. Ini berarti orang yang belajar karate harus membersihkan dirinya dari keinginan dan pikiran jahat.

Selanjutnya Gichin Funakoshi menjelaskan makna kata “kara” pada karate mengarah kepada sifat kejujuran, rendah hati dari seseorang. Walaupun demikian sifat kesatria tetap tertanam dalam kerendahan hatinya, demi keadilan berani maju sekalipun berjuta lawan tengah menunggu. Demikianlah makna yang terkandung dalam karate.

Karena itulah seseorang yang belajar karate sepantasnya tidak hanya memperhatikan sisi teknik dan fisik, melainkan juga memperhatikan sisi mental yang sama pentingnya. Seiring usia yang terus bertambah, kondisi fisik akan terus menurun namun kondisi mental seorang karateka yang diperoleh lewat latihan yang lama akan membentuk kesempurnaan karakter.

Akhiran kata “Do” pada karate-do memiliki makna jalan atau arah. Suatu filosofi yang diadopsi tidak hanya oleh karate tapi kebanyakan seni bela diri Jepang dewasa ini (Kendo, Judo, Kyudo, Aikido, dll)
©